Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Jumat, 31 Mei 2013

Melerai Rasa

Optimisme dan Pesimisme kejar-kejaran di depanku,

Hentikan..!!
tidakkah kalian berdua bisa tenang sejenak?
Optimisme, kali ini kamu jalan lebih dulu di depan.
Pesimisme, mengalahlah, kamu terlalu sering jalan di depan.

09:22-31052013-ARYA

Selasa, 28 Mei 2013

Dunia Memori


Ada perasaan yang tertinggal untuk setiap foto,
Ada waktu yang membatu di setiap foto,
Ada alasan rindu  yang menggebu pada setiap foto,
Ada sisa tawa yang terbawa dari setiap foto.

Setiap foto menjadi pintu masuk menuju dunia-dunia memori,
Tinggal pilih pintu mana untuk masuk.


14:47-28052013-ARYA

Masih Ingat Pesawat Itu?



Masih ingatkah sebuah pesawat yang sedang dikerjakan?
Sebentar lagi nampaknya selesai,
Tinggal ujung-ujung sayap, bagian terpenting.

Landasan pun dikebut siang malam,
Beton dari ujung ke ujung sudah nampak kering,
Tinggal pemolesan aspal yang rapih.

Di ujung sana sudah lebih dulu berdiri bangunan putih,
Terminal yang nampak manis dengan kaca-kaca,
Tinggal menunggu penumpang memenuhinya.

Sungguh tidak sabar ingin segera terbang,
Terbang mengarungi benua demi benua sebelum tua.
Terbang meninggalkan kenangan yang terlalu nampak.


00:28-28052013-ARYA

Rabu, 22 Mei 2013

Halt dich an mir fest



Du hast mich lang nicht mehr so angesehen
hast mir lang nichts mehr erzählt.
Unsere Fotos hast du abgenommen
weil dir irgendetwas fehlt.
Du rufst mich an und sagst du weißt nicht mehr,
weißt nicht mehr was dich berührt.
Die letzten Jahre haben dich aufgewühlt
und dich nur noch mehr verwirrt.

Halt dich an mir fest, wenn dein Leben dich zerreißt.
Halt dich an mir fest, wenn du nicht mehr weiter weißt.
Ich kann dich verstehn.
Halt dich an mir fest, weil das alles ist was bleibt.

Ich lass das Licht an bis du schlafen kannst
doch du wälzt dich hin und her.
Schläfst die Nächte von mir abgewandt,
bist du einsam neben mir?

Halt dich an mir fest, wenn dein Leben dich zerreißt.
Halt dich an mir fest, wenn du nicht mehr weiter weißt.
Ich kann dich verstehn.
Halt dich an mir fest, weil das alles ist was bleibt.

Siehst du den Weg aus dieser Dunkelheit?
Willst du raus, ich bin bereit.
Das kann nicht alles schon gewesen sein.
Ich glaub an uns und unsere Zeit.

Halt dich an mir fest, wenn dein Leben dich zerreißt.
Halt dich an mir fest, wenn du nicht mehr weiter weißt.
Halt dich an mir fest, wenn dein Leben dich zerreißt.
Halt dich an mir fest, wenn du nicht mehr weiter weißt.
Ich kann dich verstehn.
Halt dich an mir fest, weil das alles ist was bleibt.
Halt dich an mir fest, weil das alles ist was bleibt.
Halt dich an mir fest, weil das alles ist was bleibt.
Halt dich an mir fest, weil das alles ist was bleibt.


Revolverheld feat. Marta Jandová

Sajak Mei 1998


Untuk mengenang 21 Mei sebagai hari runtuhnya rezim Soeharto, 15 tahun bangsa besar ini telah hidup dalam atmosfer reformasi. 


...
Dari sejak jaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.
O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan !
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur !
Berhentilah mencari ratu adil !
Ratu adil itu tidak ada.
Ratu adil itu tipu daya !
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil.
...

PENGGALAN SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA
KARYA W.S. RENDRA
DIBACAKAN DI GEDUNG DPR PADA 17 MEI 1998

Rabu, 15 Mei 2013

Tangan Tuhan


Pagi ini, aku lihat tangan Tuhan membuka hatinya.
Siang ini, aku lihat tangan Tuhan membantu tangannya.
Sore ini, aku lihat tangan Tuhan menutup matanya.
Malam ini, aku lihat tangan Tuhan menuntun langkahnya.

Aku sadar, Aku sedang ditolong.
Aku tidak sadar, Aku sering tertolong.

Hari ini, aku lihat ada banyak tangan Tuhan dimana-mana.
Buat aku malu kemana-mana sering tidak menyambut tanganNya.

Terimalah kasihku wahai Sang Pencipta.


08:42-15052013-ARYA

Catatan Seorang Demonstran


Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.

Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.

Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Catatan Seorang Demonstran

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama. Berikut adalah puisi-puisinya:

====================================================

MANDALAWANGI – PANGRANGO

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

====================================================

“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” – Soe Hok Gie

====================================================

SEBUAH TANYA



“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Selasa, 1 April 1969

====================================================

PESAN

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973

====================================================

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)



Akhir perjalanan Soe:
15 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Soe Hok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak sempat tertolong.

Senin, 06 Mei 2013

Mata Kita



Melihat itu tidak hanya ke atas, tapi juga ke bawah.
Agar tidak menatap selalu ke atas, juga terlalu ke bawah.
Supaya pandangan kita tetap lurus kedepan.

Mata kita memang dua,
Mata pikiran dan mata hati.
Lalu bagaimana membuka kedua mata itu?

Supaya tidak menatap selalu ke atas dengan mata pikiran,
Supaya tidak terlalu menatap ke bawah dengan mata hati.
Supaya punya waktu untuk melihat semua dengan kedua mata.


06052013-19:40-ARYA

Kamis, 02 Mei 2013

Hi Dad




i learned a lot from you,
like how to be a man,
how to treat a lady,
and how to get respect and dignity,

Thank you, dad. i love you :D
Happy Birthday anyway.


16032013-10:00-ARYA

see my post for my mom here