Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Sabtu, 02 Maret 2013

Kembang Suntiang

This painting specially towards "ARTention Art Exhibition" organized by Department of Chemical Engineering at University of Indonesia. Hope it will coloring the exhibition.


About the painting :

Tanah Sumatra dahulu disebut juga Swarna Dwipa (Pulau Emas), Sebutan ini rasanya pas, selain karena  kaya akan tambang emas, hal ini juga ditunjukkan oleh cara  berpakaian masyarakat suku-suku adatnya yang bertabur nuansa emas. Salah satunya adalah budaya Minangkabau, dimana anak daro (pengantin perempuan) harus beraksi diatas pelaminan selama berjam-jam dengan "Suntiang" berbahan emas dengan berat lebih dari 5 Kg diatas kepalanya.

Kemilau 140 Kembang Suntiang yang ditanam di rambut anak daro sungguh nampak aduhai. Tapi apa yang dirasakannya? pastilah kesakitan. Suntiang membawa filosofi sendiri dari tanah minang, dimana hal ini menjadi latihan anak daro dalam memikul beban yang akan terjadi dalam perjalanannya sebagai seorang istri dan ibu kelak.

Seperti kutipan pepatah minang berikut;
"Anak nelayan mambaok cangkua, menanam ubi di tanah darek"
"Beban sakoyan dapek dipikua, budi sakatek taraso barek"

Yang artinya adalah;
"Seberat-berat beban masih dapat dipikul, tapi budi yang sedikit tetap saja terasa berat"


17:50-02032013-ARYA

1 komentar:

d.retania mengatakan...

Dalam pigmen kelabu, dominasi warna historis yang kaya dan kompleks dalam tradisi gaya dan subjek.
Pelukis mampu menampilkan kemewahan tersebut dengan pas dan sederhana. Kembang Suntiang, ekspresionisme minimalis.
Goresan yang cukup memikat. Sungguh berbakat. Selamat.

Poskan Komentar