Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Kamis, 18 Oktober 2012

Maha Drama




Naskah ini rumit, tapi akhirnya pria berkacamata bingkai hitam itu melanjutkannya. Membaca dengan dalam permainan hidup dalam kata-kata. Siapa yang tidak kenal dengannya, apik di depan mata lensa dan tajam membawa peran, aktor kawakan.

Hari sudah semakin gelap, lampu-lampu taman kota mulai menyala. Ini saatnya pria itu beradu peran bersama perempuan timur yang menawan. Perempuan itu muncul dari bilik perias, ia berjalan mendekati kolam air mancur tempat dimana ia akan memaki sang aktor besar.

Umpatan perempuan itu melatari masuknya aktor ke dalam adegan klasik. Aktor itu hanya diam, bisa-bisanya ia mengubah wajahnya seketika menjadi pucat pasi.  Perempuan itu bagai tidak ingin kalah memainkan peran, liuk matanya menunjukkan sejuta kesal akan apa yang terjadi, ia tahu dirinya bukan satu-satunya perempuan yang seharusnya ada di hati pria dambaannya. Aktor itu merampas lembutnya jemari lawan mainnya, dari balik kacamata hitamnya ia buat ikatan sekuat baja pada mata perempuan itu, kali ini bahasa tubuh bisa mewakili semuanya. Perempuan yang sedang dikeroyok cambuk api amarah itu pun membalasnya dengan cara melontarkan apa-apa yang pernah sang aktor janjikan padanya, termasuk kesetiaan. Memang laki-laki bukan dilahirkan untuk bisa bicara, terlebih tidak ada lagi kata yang tepat untuk disampaikan saat ini. Aktor itu hanya menambah kuat ikatan matanya, menarik ikatan itu hingga semakin dekat, menahan leher perempuan itu hingga ia merasa yakin ingin dimiliki sepenuhnya, hingga bibir keduanya bertemu, kelembutan demi kelembutan yang menghanyutkan. Kenyamanan itu terpotong oleh teriakan sang sutradara, lalu disambung dengan decak kagum para tim dalam riuh tepuk tangan. Suasana di akhir-akhir itu selalu lebih terasa. Perempuan itu mulai menyimpan hati untuk sang aktor.

Satu per satu adegan dimainkan dengan mulus hingga malam semakin gelap, aktor tersebut pun pulang bersimbah keringat. Di jalan yang dipayungi temaram bulan, ia berhenti di persimpangan jalan untuk sekedar membeli bir dingin. Sekali ia menenggak bir itu, ia nyalakan sebatang cerutu yang melengkapi temannya sampai rumah.

Sambil mabuk ia mengetuk pintu rumahnya, berulang kali ia ketuk hingga memecah sunyinya dini hari. Pintu itu dibuka oleh orang yang tidak lagi ada di hatinya, seorang perempuan keturunan mediterania. Aktor itu menerabasnya masuk kedalam rumah menuju kamar tidurnya, seolah tidak ada waktu untuk menyampaikan sepatah kata pun. Perempuan itu menyusulnya dan mulai memberanikan diri bertanya dari mana saja aktor itu seharian. Dengan nada lelah ia hanya menjawabnya dengan mengingatkan perempuan itu untuk tidak kembali kerumahnya. Perempuan itu harus tahu, ia bukan lawan sang aktor. Aktor itu tidak akan pernah kehilangan tenaga satu joule pun untuk perempuan yang telah melanggar ultimatum sang aktor. Kebohongan diungkap kebohongan. Tangis dibalas tangis. Aktor itu telah sadar sebelum perempuan itu sadar, ia hanya sedang menikam hatinya sendiri, semakin lama semakin dalam. Tapi perempuan itu tetap menyimpan hati kepada sang aktor.

Semua ini pasti akan tamat,
Menunggu siapa yang benar-benar kalah atau berusaha mengalah.
Bekerja dalam sandirawa, hidup pun dibawa bersandiwara. Inilah maha drama.


04:40-18102012-ARYA

0 komentar:

Poskan Komentar