Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Rabu, 18 April 2012

Terakhir



Kamu, kali ini aku mainkan jutaan suasana hanya untuk berpikir tentang kamu.

Saat itu kita menemukan rasa yang sama, rasa yang tak pernah terdengar dari orang lain. Hanya kamu dan aku, kita. Kita mendewasakan rasa itu di umur belia. Kita menganyam pita demi pita dengan tawa. Kita bahagia, sepenuhnya bahagia, aku tau itu. 

Siapa sangka api mencair, heran tersenyum.

Aku mengangkut gelondongan kayu itu sendiri, kamu lihat sendiri pijakanku basah oleh keringat. Aku pahat dengan sabar kayu itu sambil memandangmu takjub. Aku susun rapih balok berukir cantik, ditemani senyum hangatmu. Hingga satu sore yang lelah, kepalaku di pangkuanmu, memandangi bersama bahtera yang hampir selesai itu. Kita punya rencana untuk berlayar bersama.

Siapa kira air terbakar, diam termangu.

Kamu mulai bermain air dan api, mengaduk keduanya dalam kendi emas. Entah apa yang telah berganti, aku tidak melihat cara kamu melihatku dulu. Apa saja yang kamu isi ke dalam kepalamu selama ini, sehingga aku tidak mampu mengikuti bahkan menerka sekalipun gaya pikiranmu akhir-akhir ini. Seharusnya mataku menempel diatas matamu, telingaku menempel disamping telinga mu. Sehingga aku ikut belajar apa yang kamu lihat dan dengar.

Siapa bayangkan membenci cinta, hambar.

Malam itu kesempatan untuk menyesalkan atau membanggakan apa yang kita buat. Aku dibekam sesal dan kesal. Malam itu membawa duka yang mendalam hingga detik ini. Aku memaafkan dan mengingatnya. Malam itu kepekaanku lenyap ditelan api dan hilang disapu angin. Aku mati rasa dan melarikan diri. Malam itu mengakhiri pertanyaan klise dan mengawali jawaban klasik. Aku dibodohi dan dibohongi.

Siapa tahu cinta mendendam, amarah.

Lagi-lagi aku mempreteli luka yang telah kering, sengaja ku buka untuk mencari cara mengikat kakimu yang semakin liar. Harusnya tidak perlu, jika sang mendiang saja tidak pernah mampu membuatmu duduk manis dan memelototimu. Keterlaluannya aku masih bisa merindukan kamu yang muda. Sudahlah.

Aku gila sendiri dibuatnya, kamu menjadi suatu kengerian, aku menyelamatkan diri, ini terakhir kalinya.

Tanpa ambiguitas, tulisan ini ketajaman untukmu.


23:00-17042012-ARYA

0 komentar:

Poskan Komentar