Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Sabtu, 09 Juli 2011

Cermin Mata


Seorang nenek tua itu nampak sangat segar. Berjalan memopong usia dengan senyum yang tersungging di pipi berlipatnnya. Ia menyapa semua orang sambil mendengakkan kepala hingga bola-bola matanya disingsingkan di dasar kelopak mata. Dalam angkuh dan sombong.

Berlenggok dengan lagak bangsawan. Gila dihargai, haus dihormati, hobi disanjungi, girang dipujai, ialah energi yang mendenyutkannya untuk tetap berdiri. Si nenek memang belum bangun dari tidur nyenyak dalam selimut krisis. Krisis identitas yang membuat percaya dirinya terhempas kesana kemari entah kemana. Antara kasihan dan muak.

Mengamati setiap bagian kain yang membalutnya dengan penuh takjub, lalu mulai menyipitkan mata saat melihat gadis yang mampu menyainginya dengan penuh takut. Terlebih kekurangan gadis tersebut terlihat semakin besar dibalik kaca mata emas sang nenek. Maka dengan mudah ia menjatuhkan hinaan yang menghardik sana sini. Malang nian senyum gadis luguh itu kini.

Gadis yang awalnya memegang lembaran naskah dan  hanyut dalam kisah manis ksatria berkuda putih dan putri dendelion itu pun gusar. Ia membungkukan badan dari kursi putih itu lalu mengambil sebuah pecahan batu granit yang berceceran di jalan depan tokonya tempat ia bekerja. PRANG..!! batu itu pun dihantamkan pada sebuah cermin yang biasa pembeli gunakan sebelum membeli baju. Sambil tetap  mendengarkan alunan cacian sang nenek, 2 belah kecil pecahan cermin itu ia pungut. Lalu ia mengeluarkan perekat cair yang biasa ia gunakan untuk menambal sepatu satu-satunya yang sering jebol ditengah jalan. Terakhir ia menanggalkan 2 buah kawat dari papan nama toko yang ada di sebelah kursi tempat ia duduk. Tidak lama ketiganya berhasil ia rangkai menjadi satu buah alat bantu mata. Cermin mata.

Memotong semprotan sang nenek, ia berkata:
"Nenek yang baik, gunakanlah ini untuk mengganti kaca mata yang nenek gunakan. Nenek hanya lupa berkaca."

Gadis itupun meninggalkan teras tokonya tanpa tambahan kata.

Karena mengenali dan menghakimi orang lain jauh lebih mudah ketimbang mengenali dan menghakimi diri sendiri.


16:50-08062011-ARYA

0 komentar:

Poskan Komentar