Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Senin, 18 Juli 2011

Burung Gereja



Seekor burung gereja kelihatan melayang bingung, lalu hinggap di barisan besi tempa bergaya kolonial romantik, pagar balkon itu berada persis di luar ruang tidurku. Menembang merdu bak pelaku seni jalanan yang giat menarik perhatian si penghuni demi koin penghargaan. Jatuhan kain biru yang tidak biasanya telipat memberi kesempatan ku untuk menyaksikan sang biduan memainkan nada, dibalik kaca yang kini silau akan sapaan mentari pagi.

Entah apa tujuan ia sengaja mampir di teras atas hunian ini, yang pasti ia berhasil mengalahkan lembutnya bulu angsa bersarungku, sampai-sampai aku mau menyimaknya. Ini bukan kali pertama aku terperanjak dari lelap, lagi-lagi hanya karena dia. Aku suka dia.

Saat-saat melewati beberapa putaran jarum panjang jam dinding bersamanya adalah hal yang menarik, sepele, namun demikian ia telah jadi teman setia pagiku.

Esok dini harinya, teras balkon itu sudah penuh taburan segenggam campuran biji-bijian sebagai hadiah dari ku atas tersematnya julukan, “Sahabat Baru”. Menjelang pagi, daun jendela dan pintu yang membatasi balkon dan ruangan telah dibuka lebar-lebar. Tidak ada batas lagi.

Sampai juga dia, tidak lagi bernyanyi namun menghampiri hamparan biji-bijian lezat yang nampak jarang ia temui, segera ia mulai mematuk-matuk satu persatu. Tidak puas hanya menemukan biji-bijian ia pun melompat-lompat masuk sembari celingak celinguk memandang heran ruanganku, lucu. Pemandangan penuh kesan itu ia akhiri dengan meninggalkan kotoran di atas permadani, masih lucu.

Enggan rasanya jika ia tetap mengotori ruanganku, namun aku suka dia ada disini. Aku ulangi lagi. Tidak habis pikir, kali ini balkonku diserbu segerombolan burung gereja, hingga aku tidak mampu mengenali lagi yang mana sahabat baruku itu. Sambil berdecak takjub aku mengamati sebagian gerombolan burung gereja yang telah menguasai ruanganku, beberapa diantaranya seperti sedang mencari-cari tempat untuk membuat sarang. Kesal menghampiriku saat mereka semua pergi dan memberiku imbalan kotoran disana sini, sangat tidak lucu. Dimanfaatkan dan dijatuhkan.

Sekarang aku punya nilai untuk dia, sehingga aku bisa punya keputusan untuk dia. Lain kali aku cukup memandangi dia dari balik kaca jendela saja. Tidak terlalu jauh, Tidak pula terlalu dekat.

Seandainya ia bukan burung, ia harusnya berhati-hati karena aku mampu menilai dan memutuskan.

19:00-17072011-ARYA

3 komentar:

Prastina Dwi Utami mengatakan...

>.< berhati-hatilah pada yang 'baru' menghampiri
hahaha

your words are cute :D

d.retania mengatakan...

Burung gereja..
Bukan salahnya jika hatinya tak termiliki.
Maka biarkanlah ia tetap menari..
menari dalam nyanyiannya sendiri, saat dini hari.

ayu aryanti mengatakan...

tapi dia hanya seekor burung gereja...
dia tidak akan mengerti saat kamu menilainya...
kamu hanya mampu menilainya saat burung itu hinggap dibalkon kamar kamu..
menganggapnya sahabat baru tanpa kamu beri sebuah kandang yang cantik agar dia nyaman menjadi sabat barumu....
yang kamu pikirkan hanya kenyamanan untuk kamu tanpa memikirkan perasaan burung itu...

bintang memiliki perasaan meskipun tidak memiliki otak...

Seharusnya kamu mampu melihat apa yang burung gereja itu mau saat akan kamu jadikan sahabatnya...

mungkin burung gereja itu beranggapan "kamu manusia egois"

Poskan Komentar