Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Sabtu, 16 April 2011

Paradigma Amarah



Coba sekelompok pengujuk rasa yang berada di depan Istana Merdeka itu mencoret-coret gambar Presiden, atau menginjak-injaknya dengan penuh nafsu, bahkan mereka membakar gambar tersebut, apakah anda marah? TIDAK, terutama mereka yang mendukung Partai Oposisi.
Bagaimana jika sekelompok pengunjuk rasa itu ada di Negara lain, terutama Negara tetangga, dan mereka adalah warga Negara tersebut, apakah anda yang menyaksikannya dari layar kaca akan marah? IYA, terutama mereka warga dari Negara yang kita benci.
Lalu mengapa kita jadi serba egois? boleh melakukan apapun kepada siapapun dan menjadi sangat tersinggung dan marah ketika bangsa lain melakukannya? Aneh, konsep mencintai negeri yang salah cara. Disorder Nasionality. Nasionalisme yang salah.
Jika para pengunjuk rasa melakukannya karena jawabannya adalah hak rakyat, maka Presiden pun punya hak azasi untuk tidak dihina. Terlebih beliau adalah simbol Kedaulatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terlebih beliau menjadi begitu istimewa karena hasil dari proses Pemilihan Presiden langsung oleh Seluruh Rakyat Indonesia. Tragis.



Coba sekelompok anak muda yang lebih antusias bermain band dengan warna musik barat dan dandanan barat itu tidak pernah lagi memegang alat musik tradisional bangsanya, apalagi harus pernah memainkannya dengan benar, apakah anda marah? TIDAK, terutama mereka para pemiliki label musik.
Bagaimana jika sekelompok anak muda yang ada di Negara lain tertarik dan senang memainkan alat musik tradisional bangsa kita, bahkan turis di Negara itu senang menyaksikan pertunjukan mereka, dan Negara tersebut mengelola dan memasarkan dengan baik pertunjukan tersebut dengan apik, apakah anda yang tahu pertunjukan tersebut ada di Negara mereka akan marah? IYA, terutama mereka yang berjuang mati-matian melestarikan alat musik tradisional Bangsa Indonesia.
Lalu mengapa kita menjadi serba terlambat? terlambat mengenalkan pada generasi muda, terlambat membendung derasnya globalisasi, terlambat mengelola asset-aset leluhur yang agung? Aneh, mendadak mengenal dan mencintai apa yang telah kita punya selama ini, warisan luhur luar biasa yang ternyata salah dititipkan kepada Bangsa Indonesia. Late of Nasionality. Nasionalisme yang terlambat.
Jika para anak muda yang ada di Negara lain itu haus akan budaya luhur, maka anak muda kita bisa dibilang kenyang dengan kalimat Budaya Bangsa Indonesia itu beraneka ragam tanpa kenal satu persatu. Bagaimana tidak sejak kecil mereka hanya kenal dari apa yang mereka tonton di televisi dan apa yang mereka dengar di radio, terutama karya-karya barat di televisi dan radio hasil bisnis yang lebih menguntungkan, ketimbang menyiarkan mahakarya nenek moyang mereka. Miris.


Coba sekelompok militan bersenjata lengkap dan canggih menghancurkan tatanan kehidupan Bangsa Indonesia yang damai dengan membombardir habis kota-kota besar di Indonesia untuk melumpuhkan Negara besar ini hingga bisa diduduki atau sekedar menciptakan instabilitas politik dan ekonomi, apakah anda akan marah hingga ikut wajib militer? IYA, terutama para Prajurit pemegang sumpah Sapta Marga (TNI) yang selalu setia mempertahankan Negara ini hingga tetes darah penghabisan.
Bagaimana jika sekelompok militan tersebut dibuat lebih sederhana dalam kelompok-kelompok kecil ala teroris, kelompok tersebut bisa dengan leluasa membuat serangkaian kegiatan pemboman disana sini, menghancurkan tingginya persentase kunjungan wisatawan mancanegara, apakah anda akan membantu mati-matian pemegang sumpah Tri Brata (POLRI) untuk mencari pelaku pengeboman? TIDAK, terutama anda yang berada jauh dari kota yang diserang teror bom.
Lalu mengapa kita serba lupa? lupa jika setiap negara punya musuh, lupa ada otak raksasa yang menggerakkan semua ini, lupa tentang seruan dan peringatan Mantan Presiden? Aneh, lupa waspada sehingga tidak pernah siaga. Stupid Nasionality. Nasionalisme yang bodoh.
Jika saja ada pernyataan perang besar-besaran kepada musuh prajurit bersorban, sehingga kita bisa ikut mengepung gerak mereka yang sudah merata ada di dalam masyarakat kita tinggal, karena POLRI tidak dapat memborgol dan menembak mereka yang berada dibalik lambang agama dan TNI yang tidak bisa meluncurkan serangan rudal dan roket kepada musuh yang jumlahnya perorangan dan berada di sebuah pemukiman padat penduduk, mereka cerdas dan penuh strategi. Negara dalam bahaya. Rakyat Indonesia seperti sedang menikmati permen berduri, terluka hanya soal waktu. Ironis.


Benarkan nasionalis yang salah
Percepat nasionalis yang terlambat
Cerdaskan nasionalis yang bodoh

Ini tentang paradigma nasionalisme,
bukan paradigma asal marah.

20:16-16042011-ARYA
Powered by Telkomsel BlackBerry®

2 komentar:

d.retania mengatakan...

Disorder Nationality. Petaka. Ini potret buram suatu bangsa.
Agaknya, memang ada yang lepas dari perhatian kaum reformis, dan di sisi lain, kita–Bangsa Indonesia–seperti mati muda atau setidaknya mati suri. Diam. Menikmati.
Tapi kita, selalu merasa punya hak lebih atas citra. Citra kebangsaan, citra kenegaraan, citra presiden, dan keengganan untuk sekedar percaya, bahwa dia tidak membual.
Indonesia yang lahir dan berdiri dari jabat tangan telah berganti dengan Indonesia yang lahir dari tangan kekerasan. Kini Indonesia tampak sebagai sebuah konstruksi yang dibangun dengan kekerasan dan kekotoran sikap.
Imajinasi nasionalisme, patriotisme, kebangsaan, ke-Indonesia-an adalah hal yang abstrak. Ia memiliki banyak wajah dan beragam rupa. Saya pikir, nasionalisme ada dari impian kemajuan. Indonesia lahir bersama semangat yang ingin membebaskan.
Maka mari melanjutkan dengan diam. Diam dari segala bentuk kekotoran dan kekerasan sikap. Mari kita menikmati, menikmati semua proses koreksi diri atas paragdigma amarah, pembenaran nasionalisme yang salah.
Mari, menjadi Indonesia.

-d.retania-

Wasisto Ruswidiono mengatakan...

bagus mas

Poskan Komentar