Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Minggu, 16 Januari 2011

Lukisan Centang Prenang



Lukisan-lukisan indah berangkat dari sketsa yang jelas untuk mengarahkan sang pelukis melukis tanpa kesalahan proporsi. Sketsa itu lahir dari permainan imajinasi yang menari-nari di kepala. Imajinasi merupakan abstraksi yang menggabungkan idealis dan realistis. Imajinasi butuh kedua kata tersebut, idealis dan realistis.

Sketsa, goresan-goresan impian yang penuh dengan harapan. Goresan-goresan yang terus menebal menjadi sebuah garis lurus, lengkungan, sambungan, siku, dan arsiran bayangan yang melengkapinya. Garis-garis tersebut menjadi punya makna ketika ia tersambung satu sama lain. Sambungan-sambungan yang membentuk sebuah pesan ambigu dengan maksud mengecoh yang melihatnya, padahal pesannya satu. Bentuk-bentuk yang rumit yang merupakan jiplakan murni isi kepala saat itu. 

Sketsa menjadi penting dalam menghidupi hidup, ia menjadi alur kemana sang pelukis harus memulai melukis dan menjadi batasan-batasan ayunan kuas oleh jari-jemarinya. Sketsa yang egois adalah ketika idealis sang pelukis merajai pensil runcingnya, padahal ia bisa menggunakan penghapus untuk memperbaiki sketsanya agar lebih realistis. sketsa sudah tidak butuh kata idealis.

Jika sketsa tersebut adalah gambar hitam putih masa depan dari sang pelukis, maka gambar dengan yakin dan hapuslah mana yang sudah tidak mungkin, tidak cocok, tidak pantas dan salah. pensil dan penghapus tersebut ada di dalam kotaknya, otak.

Lukisan, goresan-goresan jejak warna warni hidup yang indah dalam kanvas. Warna warni yang telah disiapkan yang Maha Kuasa untuk dipindahkan kuas ke atas kanvas. Keputusan sang pelukis untuk memilih warna-warna yang tepatlah yang akan menghiasi sketsanya hingga selaras. Ia melukis sketsa sesuai kemampuannya, ia mulai menghidupkan sketsa tersebut dengan bayangan-bayangan disana-sini, namun kesalahan-kesalahannya membuat warna-warna baru lahir seperti kemarahan, kebingungan, keputusasaan, keraguan, kegelisahan, ketakutan, kepanikan, kerisauan, kecemburuan, kedengkian, ketamakan, keserakahan dan kejahatan. Warna-warna tersebut melengkapi arti hidup yang tidak pernah ia bayangkan. Menemukan hal yang tidak pernah terbayangkan dan baru adalah pelajaran.

Lukisan indah tersebut tidak mudah dibuat, ia melalui keringat dan konsentrasi sang pelukis dalam menyelasikan masalah-masalah pewarnaan. Lukisan yang egois adalah ketika sang pelukis memaksakan gambarnya sesuai dengan sketsa awal, padahal ia bisa membuat lukisan tersebut tetap indah dengan improvisasi degradasi warna walaupun tidak realistis jika warna langit dirubahnya menjadi hijau. Lukisan sudah tidak butuh kata idealis dan realistis.

Jika lukisan tersebut adalah gambar kehidupan yang penuh warna pada saat ini, maka lukislah mengikuti sketsa awal dan tetap lukiskan dengan warna baru mana yang tidak sesuai dan keliru. Kuas dan pilihan warna tersebut ada pada tempatnya, tangan dan kaki.

Masih ada waktu dan cara untuk menghapus bagian dari sketsa hidup, dan tidak ada cara untuk menghapus bagian dari lukisan hidup, hanya ada kesempatan dan cara untuk membuatnya tetap indah walaupun dengan judul lukisan centang prenang.




03:00-16012011-ARYA

0 komentar:

Poskan Komentar