Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Minggu, 26 Desember 2010

Generasi Pelurus Bangsa

(Sudah lama saya menyimpan naskah ini untuk terus disempurnakan dari bulan agustus 2010 yang lalu, akhirnya selesai juga, ini isi pemikiran saya tentang generasi muda, selamat membaca)



Sebuah bangsa yang dikandung selama 353 Tahun
Janin yang tumbuh besar dengan penderitaan
Beberapa kali pendarahan akibat peperangan
Persalinan dengan tumpahan keringat pejuang
Hingga dilahirkan sebuah bangsa baru yang besar
Suku, agama, ras dan adat bangsa yang satu
Ia bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia
Bangsa lain melihatnya sebagai Garuda Pancasila

Bangsa Indonesia lahir sebagai bayi yang kuat bertahan dari keterbatasan hingga mampu berpindah-pindah rumah dari Jakarta, Yogyakarta hingga Bukit Tinggi dan pemerintahan yang labil dibawah perdana menteri.
Bangsa Indonesia rupanya menjadi balita yang berani untuk merangkak dan pintar bicara di depan Negara-negara lain yang merupakan teman sebaya bahkan berani membentak Negara maju yang lebih tua.
Bangsa Indonesia mampu tumbuh sebesar anak kecil setelah melewati upaya pembunuhan dari Negara lain dan sakit berkepanjangan akibat gerakan-gerakan anti persatuan yang menyebarluas di negeri ini.
Bangsa Indonesia kini menjadi remaja yang miskin dan sakit-sakitan akibat biaya perang dan terlalu sering membeli mainan seperti jembatan, monumen, dan gedung-gedung mewah.
Bangsa Indonesia berhasil bertahan hingga menjadi anak remaja yang kaya raya dari hasil minyak bumi dan gas alam yang berlimpah ruah dan tetap menumpuk hutang dengan alasan defisit anggaran.
Bangsa Indonesia terus besar menjadi dewasa yang disegani lawan karena berhasil melewati era industrialisasi hingga menjadi macan asia.
Bangsa Indonesia terus bertambah umur hingga ia baru sadar sedang berada didalam tirani kekuasaan abadi hingga ia melukai dirinya sendiri untuk menjadi Negara demokratis atas nama reformasi.
Bangsa Indonesia kini sudah cukup tua namun masih memakai perhiasan masalah-masalah fundamental seperti kemiskinan dan kebodohan.
Bangsa Indonesia tidak akan mati, Kami generasi muda berada di lini terdepan mempertahankanmu habis-habisan dan kami berada di lini tengah untuk memperbaikimu sekuat tenaga. Kami berada di setiap titik untukmu, Indonesiaku.

Seharusnya yang salah berani mengaku salah dan minta maaf
Yang terjadi malah yang salah semakin salah dengan penjelasan bohongnya
Yang terjadi malah pembodohan masyarakat akibat keterangan tanpa bukti
Sepertinya ia lupa manusia tidak luput dari kesalahan
Ia menjadi terlihat sangat bodoh dengan keegoisan dan gengsinya

Seharusnya kita tidak gelap mata hingga mempermainkan keadilan
Tidak ada yang istimewa di negeri ini termasuk Presiden,
Tidak ada hak azasi yang berbeda pada Rakyat Indonesia,
Sang peminta dan pemberi perlakuan khusus adalah penghianat,
Penghianat rumahnya di penjara hingga akhir hayat.

Seharusnya kemajuan itu kita kejar
Bukan selalu mengikuti kemajuan dengan membeli
Bukan selalu mengeluh jika kita tertinggal
Kita telah tertinggal jauh, maka makin banyak yang harus dilakukan
Kita dapat ikut menciptakan kemajuan jika mau

Seharusnya kita dapat berdiri diatas kaki sendiri,
Jika tidak mampu, kita dapat duduk diatas paha sendiri,
Jika masih sulit, kita harus dapat tidur diatas punggung sendiri, titik.
Dengan kata lain kita harus dapat mandiri dengan kemampuan bangsa sendiri,
Dari kita, oleh kita dan untuk kita, bukan bangsa lain.

Seharusnya kita tidak mengecewakan Tuhan
Ia telah memberikan harta yang berlimpah hingga bangsa lain iri
Ia telah memberikan modal kesombongan untuk bangsa kita
Syukuri apa yang telah tuhan berikan dan maksimalkan penggunaannya
Tidak ada alasan Negara kita untuk menjadi miskin.

Seharusnya kita hidup sebagai pekerja keras dan pekerja cerdas
Hidup dengan totalitas pengorbanan untuk Negara tercinta
Hidup tanpa waktu untuk menyesali dan meratapi kegagalan
Hanya jika kita selalu maksimal mengerjakan sesuatu
Hingga tidak ada waktu untuk menyalahkan orang lain

Seharusnya kita tidak bisa tidur tenang dan nyaman
Karena tugas kita telah menumpuk dan terus menumpuk
Karena mereka yang kelaparan sedang menunggu kita turun tangan
Pola penyelamatan mereka harus dibuat matang dan terlaksana, tidak cukup memberi uang sekali
Jika belum menyelamatkan satu nyawa manusia selama hidup, celakalah negeriku

Seharusnya kita menjadi bangsa yang cerdas dan bermartabat
Jangan pernah berharap dilayani jika tak pernah melayani
Jangan pernah berharap dihormati jika tak pernah menghormati
Perilaku anarkis menyamakan kita dengan naluri binatang
ada maksud, ada pelicin, ada hasut, maka ada adu domba

Seharusnya kita telah bersatu sebelum perampok itu datang,
Dan tetap bersatu saat keringat dan darah membasahi pahlawan
Dan hingga awal bangsa ini menyentuh garuda dan merah putih
Pada hakikatnya kita bersatu saat ada musuh yang sama dan ada cita-cita yang sama,
Setelah musuh kalah dan cita-cita tergapai, kembali cerai berai.

Jangan lupa,
Perubahan itu akan selalu datang,
Dan kita harus siap menghadapi orang yang setia menghalangi perubahan

Terimakasih kepada generasi pertama bangsa atas sebuah kemerdekaan ini
Terimakasih pada generasi setelah kemerdekaan yang telah membuat bom waktu
Terimakasih pada generasi yang sedang berkuasa yang tidak mampu menjinakan bom hingga meledak
Selamat datang untuk generasiku, generasi perbaikan total masalah-masalah bangsa.
Kami tidak hanya generasi penerus bangsa, namun kami juga generasi pelurus bangsa

Generasi muda bangsa itu kami,
Generasi pelurus bangsa itu kami,
Kami akan meluruskan arah kemudi Negara ini kepada tujuan awalnya
Kami akan meluruskan cara kemudi Negara dengan supremasi hukum

Dengan kebodohan dan ketamakan, yang berkuasa tak akan mampu membenahi ini semua,
Dengan persatuan generasi muda, kita memperoleh kekuasaan untuk menuntaskan semua ini.

Ini untuk indonesiaku
Inilah saatnya.


00:26-26122010-ARYA

Senin, 13 Desember 2010

Kamu Asal Keberanian dan Ketakutan Ku



Musim itu telah membuat ku menyelam hingga dalam ke ruang gelap dan sepi. Aku terduduk lemas disana tanpa sedikitpun lembaian cahaya, namun justru dengan buaian dingin hingga membeku. Aku putus asa. Aku takut mati konyol disini. Aku sekarat.


Lalu aku melihat kamu, dengan senyum tanpa kata. Aku dan kamu disini dengan alasan yang sama, penghianatan oleh penjahat bertopeng. Kamu perlahan berdiri dan mulai berjalan tertatih-tatih. Kamu menjadi alasan terakhir kenapa aku harus meninggalkan tempat ini. Seketika jubah ketakutan ku itu terbakar menjadi debu keberanian yang menyala. Aku berdiri dan berlari menghampirimu, kemudian mengangkatmu dengan kedua tanganku yang masih penuh luka. Aku tahu satu-satunya jalan keluar dari tempat ini. Aku ingin cepat keluar darisini bersama mu.


Akhirnya aku dan kamu selamat. Kembali hidup dengan kehangatan yang jauh lebih baik. Jurang-jurang buatan yang sama itu ada di depan mata dan badai petir sesekali membelah ketenangan, aku tidak pernah takut melewati semuanya. Penjahat-penjahat bertopeng itu kembali mengusik dan pendengki pun ikut meramaikan perjalanan aku dan kamu, aku tidak pernah takut menghadapi mereka. Kini aku justru takut kepadamu. Aku takut pada setiap perubahan darimu. Tolong jangan berubah, tetaplah seperti ini, seperti aku melihat kamu pertama kali. Jujur dan setia.


Waktu hanya akan memberikan aku dan kamu kesempatan untuk mengetahui banyak alasan, sehingga melakukan perubahan secara sadar ataupun tidak. Perubahan yang tidak bisa dihindari setiap orang, termasuk aku dan kamu. Berharap perubahan itu adalah hal yang bisa diterima dengan alasan yang tepat, hanya jika ada alasan yang tepat. Perubahan akan dijawab dengan perubahan, seperti aksi dan reaksi yang membuatnya kembali seimbang. Keseimbangan itu adil, walaupun terasa lebih pahit atau terlalu manis.

Kamu merubah ku menjadi berani dan kini aku takut kamu menjadi berubah. Aku punya keberanian karena kamu. Aku punya ketakutan karena kamu. Kamu asal keberanian dan ketakutan ku.

15:11-11122010-ARYA