Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Kamis, 15 Oktober 2009

Bisikan Naluri


Bait-bait suratan ilahi telah kujalani dengan suka dan duka. Setelah suka tentu akan ada duka. Dan inilah duka yang kini menyelimuti. Idealis, mungkin itu kata yang dapat mewakili kerasnya pendirian diri ini, kuatnya ego, bahkan kemunafikan kata mereka. Langkahku kali ini sungguh berat dan terasa begitu lama. Setelah ledakan itu meledak tepat dihati ini.

Dalam bait suratan ilahi ini, hari hari ku terasa sangat baik dan indah, namun aku salah. Ternyata ada yang diam diam merakit bom besar dengan daya ledak tinggi. Walaupun bom tersebut dapat mencipatakan kerusakan hebat, namun hanya akan ada satu korbannya, aku. Siapa sangka bom yang sangat besar tadi mampu dirakit dan disimpan rapih dibalik matanya. Tak terlihat meski seujung jari pun. Hebat.

Beberapa kali rasa curiga itu muncul di depan kening ini. Namun selalu terhalau oleh rasa percaya yang berlebihan atau bahkan terlalu percaya padanya. Padahal aku tahu sesuatu yang berlebihan atau terlalu itu tidak pernah baik. Namun manusia selalu sulit menerapkan saran, manusia lebih mudah untuk memberikan saran, demikian pula aku. Hingga suatu saat aku pun yakin pada satu kebenaran yang tidak memiliki bukti, namun itu cukup membuatku menentukan langkah berikutnya. Diam. Aku selalu menunggu kejujurannya bercerita lebih dulu.
Namun kejujuran itu tak pernah ter dengar, yang terdengar justru seperti alibi baru. Entah apa yang terjadi sebenarnya padaku. Aku juga lebih banyak mendengar naluri ini berbisik pelan namun jelas. Walau terlambat kupahami, aku hanya dapat mensyukuri, terimakasih tuhan atas naluri ini.

Seperti aku sedang berjalan di ujung bait suratan ilahi. Tibalah saat ledakan itu. Seperti telah direncanakan matang, ledakan itu seketika mengagetkanku, kemudian dengan cepat membakar habis hati ini. Melukai semua bagian hatiku tanpa ada darah yang terbuang. Tidak tahu apa yang harusku lakukan selanjutnya, karena tidak ada pilihan untuk tetap berada disana. Cukup.

Dengan ego yang penuh luka ku tinggalkan tempat itu. Aku pikir aku cukup cerdas dan pintar untuk menghalau dan menyelesaikan masalah yang ada dengan logikaku. Namun tidak untuk ini. Dia ternyata cukup pintar untuk membodohi aku. Terima kasih.

Betapa bodohnya aku masih memberi porsi yang lebih besar untuk logika ini bermain dibandingkan naluriku. Sampai saat ini aku tidak mengetahui dimana letak naluri itu bernaung. Aku ingin segera menghampirinya dan menyampaikan permohonan maafku yang dalam meski ia akan diam dan tetap berkata kepada ku. Maaf aku telah mengkerdilkanmu. Naluri bukanlah hati kecil, naluri ialah hati yang paling besar.

Demikian bait suratan ilahi selalu menjadi misteri yang diterka terka oleh mimpi mimpi manusia.


00:30-15102009-ARYA

2 komentar:

Anonim mengatakan...

gile permainan kata-katanya bikin merinding dan menjadi inspirasi.(Fei)

Anonim mengatakan...

siip!!! good job bro...
keren k'arya....
perasaan sakit hati yg biasa'y mendayu-dayu dan metal *melankolis total
diubah jadi penuh keangkuhan dan dengan gaya yg cowo bgt...asyik bgt baca'y...

_ifett_

Posting Komentar