Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Selasa, 01 September 2009

Cukup Basi Untuk Segera Dibuang


Matahari tenggelam perlahan lahan diujung sana. Meninggalkan banyak tanda tanya sebelum ia sempat menyelesaikan jawabannya. Kejadian kejadian yang makin janggal untuk dipercayai begitu saja. Sepertinya otak ini tidak ingin kalah dengan akal busuknya. Sempat untuk berfikir keras, menelusuri, membandingkan, menelaah dan berusaha masuk kedalam pola fikir mereka. penghianat, pendusta dan pembual.

Matahari seolah tak peduli dengan keresahan ini. Ia tetap saja menjauh dari mataku dan membuat dunia semakin gelap. Aku pun tidak tinggal diam, aku berlari mengejar kesempatan yang tersisa. Terlalu banyak kejutan kejutan yang diberikan oleh mereka. Aku selalu terlambat untuk memahami isi dan tujuan hidup mereka yang sempit itu. Telah kusadari ternyata mereka telah berbohong sebelum mereka berkata-kata.

Matahari telah benar benar berada di benua seberang. Dimanakah lagi harus kutemukan arti penting sebuah kejujuran meski itu dari raut wajah. Kejujuran mungkin terlalu sederhana untuk dijelaskan. Namun tidak sulit untuk menjelaskan sebuah kepercayaan. Kepercayaanlah yang melahirkan kesempatan terbesar hidup bagi semua yang memilikinya. Kesempatan untuk berjuang mendapatkan penghargaan. Dan mereka lebih memilih jalan tikus dengan tampil memukau untuk mendapatkan penghargaan.

Matahari pagi yang kutunggu kini. Aku hanya ditemani dengan semua pengakuan dramatis mereka. Pengakuan yang baru tercetus beberapa detik yang lalu dibenak mereka. Dengan senyuman lebar anak busung lapar, dengan cerita cerita menakjubkan dongeng dongeng, dengan cara jalan yang sangat tenang diatas sepatu berduri, dengan pandangan tajam dibalik kaca mata hitam, dengan gaya bicara pedagang ayam, dengan pembawaan luguh meyakinkan dan dengan cara berfikir anak anak yang luar biasa.

Matahari yang indah itu terlihat kembali menerangi apa saja tidak sempat ku raba, kebohongan. Mereka seperti ditelanjangi dengan sejuta tatapan para korban kebohongan mereka. Hal ini bukan kali pertama aku tertinggal matahari untuk menyinari semua kebenaran dan menunggunya pagi hingga datang. Aku sebenarnya bosan harus mengenal mereka kembali, aku bosan dengan semua gaya mereka, aku bosan dengan kebohongan-kebohongan yang mereka lakukan, aku bosan!. Hal ini cukup basi untuk segera dibuang. Bahkan kotak sampahku sudah menumpuk dengan pendahulu mereka. Tidak pernah ada kesempatan kedua untuk penghianat, pendusta, dan pembual. Karena sekali berbohong akan ada kebohongan setelah itu. Tunggu saja bagi anda yang sempat memaafkan mereka.


23:25-20072009-ARYA

0 komentar:

Poskan Komentar