Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Kamis, 30 Juli 2009

Manusia Sejati


Kemarin, kini dan esok, manusia sejati berusaha ingin di akui oleh lingkungannya. Dari apa yang ia dapat, besar kecil, baik buruk, benar salah, berharga atau tidak, sengaja atau tanpa disadari, pasti ada yang ia berikan dan bagikan kepada keluarga dan sahabatnya. Tanpa disadari ia sedang mencari apresiasi atas dirinya. Mencari eksistensi tanpa batas pasti. Bayangkan ada berapa miliar manusia di bumi yang sama-sama mencari eksistensi. Saat itulah terjadilah benturan antar kepentingan masing-masing, disinilah mulai terjadi persaingan antar manusia. Di setiap sudut kehidupan pasti ada persaingan. Tak jarang persaingan tersebut bergesekan dan terjadilah konflik. Entah itu konfik batin atau bahkan konflik lahiriah.

Hingga diperoleh insan-insan manusia yang terpilih sebagai manusia yang lolos dari seleksi alam raya ini. Seleksi yang ia dan kita lewati saat ini. Inilah sebuah proses panjang sebuah capaian. Proses yang selalu diakhiri dengan ujian yang terasa sulit. Ujian bisa datang dari sang pencipta langsung seperti bencana misalnya atau bisa saja diwakili manusia lain dengan membuat masalah-masalah sehingga kita harus menyelesaikannya, dengan batasan waktu. Lagi-lagi ia lulus, tapi entah dengan manusia-manusia yang lainnya. Proses ini merupakan salah satu titik saja dari garis panjang rangkaian proses dalam hidup manusia. Rangkaian proses yang bertingkat-tingkat tanpa puncak.

Pastilah terasa berat untuk dilewati, apa lagi ujung perjalanan ini adalah kematian yang tidak ada jawabannya kapan. Berat, terjal, banyak air mata dan penuh keringat bahkan sempat terjatuh dan terluka untuk berjalan di atas garis perjalanan manusia. Bila dilihat dari jauh sebuah trek yang ia lewati, ternyata ia sedang menanjak. Menanjak menuju titik kesuksesan. Dan ia berhasil mencapainya, tentu dengan perjuangan dan pengorbanan, serta dengan ucapan keluh dan harap yang ia tidak sadar telah didengar Tuhan sebagai doa. Ia lupa bahwa kesuksesan itu hanya sebuah titik puncak. Dimana ia pasti kembali turun atau tidak sengaja sesekali terperosok dalam kebawah jurang. Namanya manusia sejati. Pasti akan ia daki kembali titik-titik kesuksesan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Ketika kita sedang merasa tanpa beban, hidup indah dan tenang, kita sedang ”berjalan turun” dan saat kita bermalas-malasan maka kita sedang meluncur tanpa hambatan ke dasar jurang. Oleh sebab itu terus mendakilah sepertinya. Hidup seperti manusia sejati.


00:50-29052009-ARYA

1 komentar:

Tubagus Aryandi Gunawan mengatakan...

ini comment di NOTES FB saya pindahin..

Endra Jox
Gw kox dpt turunan truz y?!
Kpn nanjaknya?!
Hahaha,.
29 May 2009 at 08:39 ·

Loki Chan
asli bikin sendiri ceritanya nich?!
29 May 2009 at 18:13 ·

Rendy de Puniet
ga mau mendaki akh, entar ilang lagi.
yang di gunung ciremai aja baru ketemu
he...he...eh
29 May 2009 at 18:59 ·

Raisa Bellana
keren...
makin jagolah bqn puisinya
heuheu
sok atuh kumpulin, trus bukuin..
hohoho
31 May 2009 at 03:22 ·

Zara El Maulida
Sebelum km ngetik., km makan apa byb? Hahahaha
01 June 2009 at 09:19 ·

Fetty Nuzuliyah
dan untuk itu kita harus terus berlari dalam hidup,,,sesekali berjalan untuk mengatur nafas dan mengumpulkan energi untuk kembali berlari...sesekali melihat ke belakang untuk memastikan masih menjadi yang terdepan..itulah kesejatian dr hidup...
*liat notes iffet_lari, lari dan lari
29 October 2009 at 21:25 ·

Posting Komentar