Hidup terasa begitu penuh kejutan. Mondar mandir antara suka dan duka. Tidak sedang berada di sebuah roda berputar atau sedang mendaki gunung. Tapi sedang menjadi peran utama dalam skenario misterius dan unik ciptaan Tuhan. Tetaplah mencari "Benang Merah" dari setiap kisah nyata.

Minggu, 13 Desember 2009

Bukti-bukti


Waktu bisa berjalan terus, tapi saya bisa berlari lebih cepat dari waktu!. Walau terkadang harus berhenti sejenak untuk istirahat, saya akan tetap lebih cepat dari waktu!. Kami memang sedang kejar-kejaran dengan satu tujuan dan dua kepentingan. Waktu akan memusnahkannya sedangkan saya akan mengabadikannya.

Selalu merasa kurang pas, kurang jelas, kurang lengkap, kurang sempurna dan pada intinya selalu ada saja yang kurang. Perfeksionis. Selalu memperbaikinya hingga benar benar merasa tidak ada yang mampu menyaingi. Walau harus mengulur waktu dan mempercepat lari, agar saya lebih dulu menemukannya. Kami memang sedang mencari-cari sesuatu. Waktu tahu persis keberadaannya sedangkan saya sama sekali buta.

Yang saya ributkan daritadi adalah bukti. Bukti bukti. Saya akan mengumpulkan bukti sebanyaknya tanpa batas.

Hanya dengan bukti, waktu dapat lebih santai dan lunak, dan di saat itu saya akan menelanjangi kebenaran dan mempertontonkan kenyataan yang selama ini berjalan ragu dan tertunduk malu.
Saya akan membuat matanya terbelalak ketika melihat apa yang saya bawa untuknya. Hingga kepercayaan dan keyakinan hanya memihak pada saya. Saya begitu terobsesi mengejar dan mencarinya hingga sendi sendi lutut dan siku ini sobek, hingga mata ini kering tanpa cairan, hingga jari ini tidak menyisakan kuku lagi, hingga otot otot kehabisan darah, hingga mati. Untuk bukti tanpa henti.

Kekuatan bukti akan menciptakan perubahan berarti dalam hidup. Buktikanlah.


03:00-13122009-ARYA

Minggu, 15 November 2009

Sepanjang Hari


Apa yang saya kerjakan hari ini?
Saya melihat apa yang belum pernah saya lihat.
Saya kenali apa yang baru saya lihat.
Saya pelajari apa yang baru saya kenal.
Saya catat apa yang baru saya pelajari.
Saya pahami apa yang baru saya catat.
Saya ingat apa yang baru saya pahami.
Saya terapkan apa yang baru saya ingat.
Saya ceritakan apa yang baru saya terapkan.
Dan saya telah mengamati apa yang baru saya lihat.

Banyak hal biasa dari apa yang saya lihat, Namun akan lebih banyak hal luar biasa dari apa yang saya amati. Terima kasih untuk media ini, waktu. Sepanjang Hari.


18:00-15112009-ARYA

Kamis, 15 Oktober 2009

Bisikan Naluri


Bait-bait suratan ilahi telah kujalani dengan suka dan duka. Setelah suka tentu akan ada duka. Dan inilah duka yang kini menyelimuti. Idealis, mungkin itu kata yang dapat mewakili kerasnya pendirian diri ini, kuatnya ego, bahkan kemunafikan kata mereka. Langkahku kali ini sungguh berat dan terasa begitu lama. Setelah ledakan itu meledak tepat dihati ini.

Dalam bait suratan ilahi ini, hari hari ku terasa sangat baik dan indah, namun aku salah. Ternyata ada yang diam diam merakit bom besar dengan daya ledak tinggi. Walaupun bom tersebut dapat mencipatakan kerusakan hebat, namun hanya akan ada satu korbannya, aku. Siapa sangka bom yang sangat besar tadi mampu dirakit dan disimpan rapih dibalik matanya. Tak terlihat meski seujung jari pun. Hebat.

Beberapa kali rasa curiga itu muncul di depan kening ini. Namun selalu terhalau oleh rasa percaya yang berlebihan atau bahkan terlalu percaya padanya. Padahal aku tahu sesuatu yang berlebihan atau terlalu itu tidak pernah baik. Namun manusia selalu sulit menerapkan saran, manusia lebih mudah untuk memberikan saran, demikian pula aku. Hingga suatu saat aku pun yakin pada satu kebenaran yang tidak memiliki bukti, namun itu cukup membuatku menentukan langkah berikutnya. Diam. Aku selalu menunggu kejujurannya bercerita lebih dulu.
Namun kejujuran itu tak pernah ter dengar, yang terdengar justru seperti alibi baru. Entah apa yang terjadi sebenarnya padaku. Aku juga lebih banyak mendengar naluri ini berbisik pelan namun jelas. Walau terlambat kupahami, aku hanya dapat mensyukuri, terimakasih tuhan atas naluri ini.

Seperti aku sedang berjalan di ujung bait suratan ilahi. Tibalah saat ledakan itu. Seperti telah direncanakan matang, ledakan itu seketika mengagetkanku, kemudian dengan cepat membakar habis hati ini. Melukai semua bagian hatiku tanpa ada darah yang terbuang. Tidak tahu apa yang harusku lakukan selanjutnya, karena tidak ada pilihan untuk tetap berada disana. Cukup.

Dengan ego yang penuh luka ku tinggalkan tempat itu. Aku pikir aku cukup cerdas dan pintar untuk menghalau dan menyelesaikan masalah yang ada dengan logikaku. Namun tidak untuk ini. Dia ternyata cukup pintar untuk membodohi aku. Terima kasih.

Betapa bodohnya aku masih memberi porsi yang lebih besar untuk logika ini bermain dibandingkan naluriku. Sampai saat ini aku tidak mengetahui dimana letak naluri itu bernaung. Aku ingin segera menghampirinya dan menyampaikan permohonan maafku yang dalam meski ia akan diam dan tetap berkata kepada ku. Maaf aku telah mengkerdilkanmu. Naluri bukanlah hati kecil, naluri ialah hati yang paling besar.

Demikian bait suratan ilahi selalu menjadi misteri yang diterka terka oleh mimpi mimpi manusia.


00:30-15102009-ARYA

Selasa, 01 September 2009

Energi Yang Maha Dahsyat



Ditengah waktu yang sedang berlari, aku terdiam dengan penuh emosi. Emosi yang menghanyutkan ku dengan pikiran pikiran busuk yang kesana kemari, imajinasi yang melayang layang tanpa arah dan kendali, penyesalan mendalam yang sulit dikubur, egosentris hingga menganggap semua salah dan berdosa, keangkuhan yang baru manusia miliki setelah dewasa, cemburu tanpa logika akan apa saja kelebihan mereka, masalah masalah yang menyulut dendam dan rencana rencana cerdas yang sarat kelicikan.Seluruhnya bercampur dibelakang mata, hidung, mulut, telinga dan kening ku. Semuanya adalah kepuasan manusia yang salah. Dan akan terus salah karena tak pernah puas.

Diujung waktu yang hampir selesai, seseorang menghampiriku. Aku merasakan energi yang luar biasa besar darinya. Energi yang mengalir deras dari auranya hingga menampar-nampar pipi ini. Rasa kagum dan kesakitan menyatu harmonis. Energi itu membawanya masuk kedalam perasaan pertama dan tindakan kedua dari setiap orang yang merasakan energi itu. Dalam dan sulit ditebak apa selanjutnya.

Sampai di titik itu. Aku dan dia berada dalam satu atmosfir yang terbentuk perlahan. Seperti ada yang bertukar antara aku dan dia. Energi. Energi positifnya.

Energi positif yang setiap manusia miliki namun baru ku sadari saat ini. Aku tidak begitu mengenal kepositifan dari suatu energi manusia, bahkan aku lebih mengenal energi negatif yang penuh dengan kelabilan namun sangat berkesan.

Atmosfir itu mengajariku banyak hal tentang energi walaupun nadanya menceritakan. Cerita tanpa suara dan kata. Hanya tatapan mata yang singkat. Namun terikat.

Keterikatan yang kupahami sebagai jawaban perbedaan energi itu. Mengikat ketidakstabilan energi positif dan negatif menjadi kestabilan energi yang maha dahsyat. Kestabilan yang seluruh umat manusia cari. Aku menikmatinya hingga sebelum energiku menjadi labil kembali. Kembali labil saat ia jauh.

Waktu itu pun selesai, saat aku tiba di tempatku bernaung bersama mereka. Seperti biasa aku melihat mereka dengan energi-energi yang sama dengan diriku. Negatif. Aku dan mereka memang lebih sering bertemu dan berpapasan, namun tidak pernah terikat. Ada banyak pertemuan dengan energi yang sama namun tidak pernah akan terikat. Dan keterikatan yang kuat hanya diciptakan oleh energi yang berbeda. Perbedaan itu kunci sebuah ikatan.


01:00-07082009-ARYA

Cukup Basi Untuk Segera Dibuang


Matahari tenggelam perlahan lahan diujung sana. Meninggalkan banyak tanda tanya sebelum ia sempat menyelesaikan jawabannya. Kejadian kejadian yang makin janggal untuk dipercayai begitu saja. Sepertinya otak ini tidak ingin kalah dengan akal busuknya. Sempat untuk berfikir keras, menelusuri, membandingkan, menelaah dan berusaha masuk kedalam pola fikir mereka. penghianat, pendusta dan pembual.

Matahari seolah tak peduli dengan keresahan ini. Ia tetap saja menjauh dari mataku dan membuat dunia semakin gelap. Aku pun tidak tinggal diam, aku berlari mengejar kesempatan yang tersisa. Terlalu banyak kejutan kejutan yang diberikan oleh mereka. Aku selalu terlambat untuk memahami isi dan tujuan hidup mereka yang sempit itu. Telah kusadari ternyata mereka telah berbohong sebelum mereka berkata-kata.

Matahari telah benar benar berada di benua seberang. Dimanakah lagi harus kutemukan arti penting sebuah kejujuran meski itu dari raut wajah. Kejujuran mungkin terlalu sederhana untuk dijelaskan. Namun tidak sulit untuk menjelaskan sebuah kepercayaan. Kepercayaanlah yang melahirkan kesempatan terbesar hidup bagi semua yang memilikinya. Kesempatan untuk berjuang mendapatkan penghargaan. Dan mereka lebih memilih jalan tikus dengan tampil memukau untuk mendapatkan penghargaan.

Matahari pagi yang kutunggu kini. Aku hanya ditemani dengan semua pengakuan dramatis mereka. Pengakuan yang baru tercetus beberapa detik yang lalu dibenak mereka. Dengan senyuman lebar anak busung lapar, dengan cerita cerita menakjubkan dongeng dongeng, dengan cara jalan yang sangat tenang diatas sepatu berduri, dengan pandangan tajam dibalik kaca mata hitam, dengan gaya bicara pedagang ayam, dengan pembawaan luguh meyakinkan dan dengan cara berfikir anak anak yang luar biasa.

Matahari yang indah itu terlihat kembali menerangi apa saja tidak sempat ku raba, kebohongan. Mereka seperti ditelanjangi dengan sejuta tatapan para korban kebohongan mereka. Hal ini bukan kali pertama aku tertinggal matahari untuk menyinari semua kebenaran dan menunggunya pagi hingga datang. Aku sebenarnya bosan harus mengenal mereka kembali, aku bosan dengan semua gaya mereka, aku bosan dengan kebohongan-kebohongan yang mereka lakukan, aku bosan!. Hal ini cukup basi untuk segera dibuang. Bahkan kotak sampahku sudah menumpuk dengan pendahulu mereka. Tidak pernah ada kesempatan kedua untuk penghianat, pendusta, dan pembual. Karena sekali berbohong akan ada kebohongan setelah itu. Tunggu saja bagi anda yang sempat memaafkan mereka.


23:25-20072009-ARYA

Kamis, 30 Juli 2009

Manusia Sejati


Kemarin, kini dan esok, manusia sejati berusaha ingin di akui oleh lingkungannya. Dari apa yang ia dapat, besar kecil, baik buruk, benar salah, berharga atau tidak, sengaja atau tanpa disadari, pasti ada yang ia berikan dan bagikan kepada keluarga dan sahabatnya. Tanpa disadari ia sedang mencari apresiasi atas dirinya. Mencari eksistensi tanpa batas pasti. Bayangkan ada berapa miliar manusia di bumi yang sama-sama mencari eksistensi. Saat itulah terjadilah benturan antar kepentingan masing-masing, disinilah mulai terjadi persaingan antar manusia. Di setiap sudut kehidupan pasti ada persaingan. Tak jarang persaingan tersebut bergesekan dan terjadilah konflik. Entah itu konfik batin atau bahkan konflik lahiriah.

Hingga diperoleh insan-insan manusia yang terpilih sebagai manusia yang lolos dari seleksi alam raya ini. Seleksi yang ia dan kita lewati saat ini. Inilah sebuah proses panjang sebuah capaian. Proses yang selalu diakhiri dengan ujian yang terasa sulit. Ujian bisa datang dari sang pencipta langsung seperti bencana misalnya atau bisa saja diwakili manusia lain dengan membuat masalah-masalah sehingga kita harus menyelesaikannya, dengan batasan waktu. Lagi-lagi ia lulus, tapi entah dengan manusia-manusia yang lainnya. Proses ini merupakan salah satu titik saja dari garis panjang rangkaian proses dalam hidup manusia. Rangkaian proses yang bertingkat-tingkat tanpa puncak.

Pastilah terasa berat untuk dilewati, apa lagi ujung perjalanan ini adalah kematian yang tidak ada jawabannya kapan. Berat, terjal, banyak air mata dan penuh keringat bahkan sempat terjatuh dan terluka untuk berjalan di atas garis perjalanan manusia. Bila dilihat dari jauh sebuah trek yang ia lewati, ternyata ia sedang menanjak. Menanjak menuju titik kesuksesan. Dan ia berhasil mencapainya, tentu dengan perjuangan dan pengorbanan, serta dengan ucapan keluh dan harap yang ia tidak sadar telah didengar Tuhan sebagai doa. Ia lupa bahwa kesuksesan itu hanya sebuah titik puncak. Dimana ia pasti kembali turun atau tidak sengaja sesekali terperosok dalam kebawah jurang. Namanya manusia sejati. Pasti akan ia daki kembali titik-titik kesuksesan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Ketika kita sedang merasa tanpa beban, hidup indah dan tenang, kita sedang ”berjalan turun” dan saat kita bermalas-malasan maka kita sedang meluncur tanpa hambatan ke dasar jurang. Oleh sebab itu terus mendakilah sepertinya. Hidup seperti manusia sejati.


00:50-29052009-ARYA

Mutasi Tanpa Henti


Kala itu, aku berjalan disana. Ditempat yang aku tahu itu buruk saat ini. Berjalan seolah berada dijalan yang benar, tepat dan baik. Bagai menulis sejarah tanpa ada kata yang salah. Ada yang sadar, tapi tidak pernah menyadarkan. Dan siapa yang tahu bila aku melakukannya dengan penuh kesadaran? Bahkan dengan sedikit obsesi. Sadar melakukannya dengan perhitungan mantap ala logika, juga rapih dan indah ala estetika. Tapi tersadar jauh dari nilai etika. Elemen kunci yang terlupakan, atau mungkin tidak tahu? Entahlah. Yang jelas sudah terlambat. Terlambat sadar, lebih baik terlambat sadar daripada tidak pernah sadar tentunya.

Kini aku dicegat rasa sesal. Terpaku dan terdiam untuk sesal. Seharusnya aku... Ssssttt!!, sudahlah untuk apa terus menyesal?. Itu hanya akan membuang banyak waktu, waktu untuk mengingat kembali kesalahan, kesalahan yang selalu manusia jauhi, dan ternyata aku lebih banyak berbuat kebenaran yang samar, tidak kasat mata.

Kadang aku benci ketika guruku, pengalaman, datang menasehati. Kenapa dia harus datang ketika sebuah cerita berakhir sebagai kesimpulan? Berbicara berbelit-belit sehingga aku harus mencari sendiri hikmahnya. Pengalaman bukan guru yang terbaik. Bukankah diantara kita pasti selalu ada yang disakiti oleh pengalaman? Termasuk aku. Semua pasti punya pengalaman, pengalaman dengan benang-benang merah yang sama dengan kita. Belajarlah dari cerita mereka.

Aku belajar dengan melihat, mendengar, dan membaca. Kini banyak cerita yang kudapatkan. Sudah membentuk 1 buku. Hanya ada dua Bab didalamnya. Bab I Pengalaman Pribadi, isinya cerita panjang pengalaman pahit dan manis selama aku hidup hingga detik ini. Bab II Pengalaman Mereka, isinya tentu seputar cerita singkat dari mereka. Bab I tidak setebal Bab II, karena banyak cerita pribadiku yang telah ada rumusannya di Bab II. Aku juga lebih lama menulis Bab I dibandingkan Bab II, aku membutuhkan waktu yang panjang untuk menulis rangkaian sebuah cerita hidupku, walaupun berakhir hanya dengan satu kesimpulan. Bandingkan dengan kecepatanku menulis rumusan cerita mereka. Sangat singkat. Rumusan yang berisikan masalah dan solusinya. Bahkan lengkap dengan variabel situasi dan kondisinya. Dan buku itu ada di dalam otakku. Password-nya ”Menakjubkan”.

Tentu saja otakku berisikan sel-sel di dalamnya. Seluruh materi yang pernah masuk kedalam mulutkulah yang akan menjadi pembentuk sel-sel otakku. Tanpa terkecuali. Jika aku berhenti memakannya, sel-sel itu akan tetap membelah tanpa henti senada dengan nafasku. Jadi akan percuma jika aku perbaiki kini. Dan deretan panjang pengalaman manusia akan mengisi dan menghidupi seluruh bagian sel hingga yang terkecil sekalipun, gen. Inilah yang membedakan aku dan kamu.

Tidak akan pernah lepas dari pengalaman. Pengalaman akan tumbuh di lingkungan, lingkungan kita. Tanpa terasa lingkungan telah mendikte aku cukup panjang. Hingga suatu saat aku memiliki kekuatan, kekuatan mengendalikan diri yang cukup kuat, dengan gen yang kokoh. Inilah lalu yang ku sebut sebagai jati diri dimana seluruh prinsip hidup telah kurasa miliki.

Prinsip omong kosong. Semakin kuat ku genggam perinsip itu, semakin hancur dibuatnya. Lingkunganlah salah satu penyebabnya. Waktu dan lingkungan menjadi dua kata yang saling bergandengan mesra. Perlahan, bahkan kadang drastis melunturkan nilai-nilai yang telah kurasa baku. Apalagi kalu bukan karena materi penyusun gen itu telah berubah susunannya, seperti susunan puzzle yang salah. Mutasi.

Aku berubah. Saat aku merasa lebih nyaman dengan aku dan prinsip yang baru, melangkah percaya diri. Entah hingga kapan ini akan tetap baru. Karena di depanku kini, telah ada aku yang lebih baru menanti untuk di coba. Entah kapan dan dimana. Tunggu saja.

Menjadi suatu senyuman untuk lingkungan yang baru, karena aku telah menjadi apa yang aku lihat. Namun apa kata lingkunganku yang dulu? Aku telah bermutasi lebih buruk. Mengecewakan!. Atau sebaliknya? Biar sejenak ku pikirkan.

Berharap mutasiku berakhir dengan sebuah keunggulan, ternyata salah. Manusia akan terus bermutasi tanpa henti. Seperti mengemudi, aku harus tetap melihat jauh kedepan dan berhati-hati. Tidak lupa untuk melihat kebelakang sesekali. Terutama sebelum aku akan bermutasi ke kanan atau ke kiri, melihat dulu sejarah dan pengalamanku. Aku yakin akan selamat sampai tujuan, impianku.


00:07-17052009-ARYA